Nilainya Lebih Rp 5 M
SURABAYA (BP) – Tewasnya gembong rampok antarkota Liem Williem Singgih alias Wie Shing membuka rahasia seputar petualangannya selama tujuh tahun di dunia kejahatan. Kemarin pagi tim gabungan dari Polda Jateng dan Polwiltabes Surabaya menemukan 30 emas batangan dan 5 kg serbuk emas dari tempat persembunyiannya di Surabaya.
Barang yang ditaksir seharga lebih dari Rp 5 miliar itu ditemukan di tas yang disimpan di lemari. Batangan emas itu beratnya bervariasi. Ada yang 0,5 kg, ada juga yang 2 kg. Total, berat emas batangan dan serbuk emas itu sekitar 20 kg. Emas sebanyak itu, bila diuangkan mencapai sekitar Rp 5,2 miliar (1 kg emas seharga Rp 260 juta). Bukan hanya itu. Dari lemari di kamar kos Wie Shing, polisi juga menemukan 18 handphone berbagai merek.
Semua barang itu selama ini selalu dibawa ke mana pun bos perampok asal Semarang itu pergi. Selain itu, selama dalam pelarian, Wie Shing membekali diri dengan sepucuk senjata serbu Scorpion (senjata organik Brimob) lengkap dengan amunisi, granat nanas, dan senpi berbentuk ballpoin. Penemuan itu juga menunjukkan bahwa sindikat Wie Shing cukup pintar memanfaatkan barang hasil jarahannya. ’’Emas itu tidak langsung dijual batangan, tapi digerus kecil-kecil. Baru serbuknya yang dijual untuk mendapatkan uang tunai,’’ kata seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut.
Penemuan emas itu merupakan hasil pengembangan interogasi terhadap Rini Lestari, pacar Wie Shing, yang ikut diamankan saat penyergapan. Kepada penyidik, perempuan asal Semarang itu mengatakan bahwa Jumat (26/9) malam sebelum digerebek, Wie Shing bercerita kalau beberapa minggu terakhir dikejar-kejar Mulyanto alias Pipik, salah seorang anggota komplotan perampok bersenpi yang dipimpinnya.
’’Saya selalu ditelepon Pipik, ’mana bagianku?’’’ kata Rini, menirukan ucapan Wie Shing, kepada penyidik. Entah keterangan Rini bohong atau tidak. Yang jelas, dia membela Wie Shing dengan mengatakan bahwa harta jarahan tersebut tidak hanya dibawa gembong rampok itu. Tampaknya, ada perpecahan di internal komplotan tersebut. Terutama soal pembagian hasil jarahan.
Tentu petugas tak percaya begitu saja atas keterangan Rini. ’’Jelas tak benar. Mana mungkin ada harta jarahan dibawa anak buah, bukan bos,’’ lanjut sumber itu. Namun, hal itu membuat petugas curiga bahwa bukan hanya senpi jenis Scorpion, dua granat, dan sebuah senpi berbentuk pulpen yang disimpan Wie Shing. Tentu dia juga membawa harta jarahan.
Petugas lantas kembali melakukan penggeledahan. Pertama di kamar kos Adi Predana (anak Wie Shing yang ikut ditangkap) di Jalan Krembangan Jaya. Di sini petugas tak menemukan apa-apa. Selanjutnya, petugas menggeledah kamar kos Wie Shing di Jalan Sidoluhur. Di tempat itulah ditemukan emas batangan tersebut.
Dengan temuan ini, polisi memperkirakan bahwa total harta jarahan kelompok tersebut selama tujuh tahun terakhir (di 18 TKP) mencapai Rp 80 miliar. ’’Itu perkiraan paling minim. Sangat mungkin jumlahnya lebih,’’ kata Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Syahardiantono.
Sementara itu, Rini Lestari dan Adi Predana berikut emasnya tersebut kemarin dibawa ke Mapolda Jateng untuk penyidikan lebih lanjut. Sebab, sebagian aksi kejahatan komplotan Wie Shing memang di Jateng. Keduanya juga telah ditetapkan sebagai tersangka. Rini diketahui paling tidak lima kali menerima uang hasil kejahatan. ’’Dia (Rini, Red) mengaku kalau tiap kali uang yang diterima Rp 20 juta – Rp 30 juta,’’ urainya.
Seperti diberitakan, Wie Shing, gembong rampok bersenpi yang sering menggarong toko emas ditembak mati tim gabungan Satreskrim Polwiltabes Surabaya dan Polda Jateng, Sabtu (27/9).
Minggu, 28 September 2008
Perampok Simpan 30 Batang Emas
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 komentar:
Poskan Komentar